AINI, MERI (2025) MAKNA BUDAYA MEGATAN DALAM TRADISI PERNIKAHAN MASYARAKAT DUSUN PEMANTEK KECAMATAN JANAPRIA LOMBOK TENGAH. undergraduate thesis, UNIVERSITAS HAMZANWADI.
|
Text
SKRIPSI MERI AINI FIX 11.pdf - Submitted Version Restricted to Registered users only Download (2MB) |
Abstract
Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana proses dan bentuk bahasa serta makna symbol yang digunakan dalam acara megatan ajikrama dalam tradisi pernikahan masyarakat dusun Pemantek. Penelitian ini menggunakan studi penelitian deskriptif dengan metode penelitian kualitatif. Data yang dikumpulkan berbentuk kata-kata, dan gambar bukan angka. Sumber data dalam penelitian ini diperoleh dari hasil wawancara secara langsung kepada ketua adat serta bapak-bapak kadus yang ada di dusun Pemantek dengan menggunakan Teknik wawancara, observasi dan dokumentasi. Hasil penelitian megatan ajikrama adalah rangkaian dari selamatan nikah kedua mempelai (pengantin Sasak) pada hari yang bersamaan dan merupakan puncak acara dalam tradisi adat Sasak. Tujuan megatan ajikrama ini adalah untuk memberitahukan kepada masyarakat yang hadir bahwa kedua mempelai sudah resmi menjadi suami istri baik secara adat maupun agama dan negara. Sebelum melakukan acara megatan ajikrama ada beberapa tradisi atau acara yang dilaluinya seperti nyelabar, mesejati, mbait wali, ngawinan, megatan ajikrama, nyongkolan serta balik lampak. Bahasa yang digunakan dalam tradisi megatan ajikrama adalah bahasa sansekerta (bahasa alus Sasak), tetapi khususnya di dusun Pemantek bahasa sansekerta yang digunakan dulu berubah menjadi bahasa Sasak biasa (bahasa sehari-hari) karena tradisi ini sudah lama hilang. Megatan ajikrama memiliki beberapa simbol atau benda yang digunakan dalam acara megatan ajikrama seperti napak lemah, olen-olen, salin dede, penginang, ceraken, kebo turu, dan sesirah aji. Napak lemah yaitu napak (kaki) dan lemah (tanah), napak lemah bermakna menginjakkan kaki ditanah, napak lemah diwujudkan dalam bentuk uang logam melambangkan bahwa sang suami harus mampu memberi nafkah kepada istrinya. Olen-olen terdiri atas sejumlah kain yang diikat dengan selendang dan diletakkan pada sebuah peti. Salin dede berupa kain umbaq, ponjol, ceraken (diisi dengan seluruh obat-obatan tradisional), kedogan (sabuk nganak), semprong tereng, kain putih benang katak dan pisau kecil. Penginang tempat meletakkan kapur, sirih, pinang, gambir dan tembakau. Kebo turu berupa kris yang digunakan sebagai alat untuk mempertahankan diri. Sesirah aji berupa baskom, kain putih, kain hitam. Kata kunci : Makna, budaya megatan ajikrama, tradisi pernikahan.
| Item Type: | Thesis (undergraduate) |
|---|---|
| Subjects: | Bahasa dan Sastra > Bahasa Indonesia > Sosiologi Sastra |
| Divisions: | Fakultas Bahasa, Seni, dan Humaniora > Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia |
| Depositing User: | Mrs Zurriyatun Thayyibah |
| Date Deposited: | 13 Apr 2026 05:35 |
| Last Modified: | 13 Apr 2026 05:35 |
| URI: | http://eprints.hamzanwadi.ac.id/id/eprint/6226 |
Actions (login required)
![]() |
View Item |
